Desain Narana Selter FTUI Juarai Kompetisi Arsitektur Internasional, Mango Architectur

0
52
Desain Narana Shelter FTUI. (Foto:urbancity.id/Pool/Dok.FTUI).

JAKARTA,urbancity.id – Tiga mahasiswa Departemen Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Indonesia (FTUI) angkatan 2018, berhasil memenangkan ajang Mango Architectur berkat desain shelter untuk daerah bencana, yang mereka beri nama “Narana Shelter”.

Desain Narana Shelter menyingkirkan 350 karya lain dari seluruh dunia pada kompetisi yang diselenggarakan oleh Mango Architecture (15 Juni – 15 Desember 2021) dengan tema “Disaster Relief Shelter-Reinventing the Tents”.

Narana Shelter merupakan hunian modular adaptif yang memungkinkan penyesuaian dan pertumbuhan sesuai dengan fase kebutuhan para penyintas. Shelter tersebut mempertahankan identitas komunitas dengan menghargai lokalitas dan budaya, menyediakan tempat yang aman, dan dapat dengan mudah dirakit dan dibongkar.

Tim FTUI tersebut terdiri dari Ariq Dhia Athallah, Gusti Ayu Putu Nadya, Nadya Fatin Nur Rahma Sultan, dibimbing oleh dosen Departemen Arsitektur FTUI dan arsitek profesional, yaitu Ir. Evawani Ellisa, M.Eng., Ph.D.; Baiq Lisa Wahyulina, S.T., M.Ars., IAI; dan Farrell Jeremiah, S.Ars.

Menurut Nadya, mereka menggunakan kain saree sebagai bagian dari desain shelter Narana. Kain Saree telah mengakar ke dalam budaya India sejak 2800-1800 SM. Seiring waktu, setiap wilayah India telah mengembangkan gaya saree-nya sendiri.

“Kain saree merupakan salah satu benang merah yang menghubungkan identitas dan kebudayaan India secara keseluruhan. Saree lebih dari sekadar pakaian atau kain. Saree mewakili keakraban, identitas, dan rasa memiliki bagi masyarakat India,” kata Nadya.

Baca Juga: Damara Village Jimbaran Hijau Raih ‘Best Housing Architectural Design’ Indonesia Property Award

Sementara Ariq mengatakan, shelter yang tidak memperhatikan kearifan lokal, justru dapat menimbulkan dampak negatif bagi para korban bencana alam seperti kesepian dan rasa putus asa dan merasa terputus dari identitas mereka sebagai bagian dari suatu komunitas.

“Untuk menghindari dampak negatif tersebut, maka shelter dirancang untuk memenuhi kebutuhan dasar kelangsungan hidup biologis individu, juga mempertahankan identitas dalam komunitas,” kata Ariq.

“Narana Shelter” sangat praktis karena dapat dibangun hanya dalam waktu hanya enam jam. Narana Selter, menurut Gusti Ayu, dirancang dengan memanfaatkan mekanisme permukaan sebagai strategi utama kami. Kami membuat desain struktur bangunan dan sistem darurat yang komprehensif untuk komunitas yang berkelanjutan,” ujarnya.

Sementara, Evawani Ellisa, pakar perancangan kota memaparkan, meskipun desain shelter Narana dilombakan untuk penyediaan shelter bencana di kota-kota India, akan tetapi desain ini juga sangat cocok untuk digunakan di Indonesia.

“Selain kesamaan iklim, masyarakat India dan Indonesia memiliki kesamaan dalam hal eratnya identifikasi individu terhadap budaya lokal.  Untuk penggunaan di Indonesia, kain saree dapat digantikan dengan kain batik nusantara, yang juga merupakan salah satu identitas kebanggaan masyarakat Indonesia,” ungkapnya.