CPM Geram CPS Bocorkan Dapur Perusahaan Kepada Pihak yang Bersengketa

0
58
Kawasan pertambangan Nikel. (Foto: Urbancity.id/Pool/Dok. Humas CPM)

JAKARTA, urbancity.id – Manajemen PT Citra Lampia Mandiri (CLM) keberatan dengan keputusan PT Cipta Piranti Sejahtera (CPS) yang memberikan akses database perusahaan kepada pihak lain yang sedang bersengketa.

Padahal, menurut Direktur Utama CLM Helmut Hermawan, sebelumnya CPS berjanji pembukaan akses database perusahaannya baru akan dilakukan setelah adanya keputusan yang mengikat (inkrah) dari pihak pengadilan.

Namun janji tersebut tidak dipenuhi, karena hingga kini para pihak yang bersengketa masih berproses di pengadilan dan belum ada keputusan inkrah.

Diketahui, CPS telah membuka akses melalui aplikasi/software akuntansi Accurate, pada Jumat, 9 Desember 2022. CPS sendiri merupakan penyedia layanan database yang digunakan CLM untuk menyusun pembukuan perseroan.

Manajer Akuntansi dan Keuangan CLM  Asep Ardiansyah menjelaskan, kemitraan antara CLM dengan CPS sudah berlangsung sejak tahun 2010. CPS menyediakan layanan sistem pembukuan untuk CLM secara paket.

Seiring perkembangan bisnis dan kepemilikan sejumlah site di sektor pertambangan, maka pada tahun 2021 CLM memilih sistem pembukuan online yang dikelola oleh CPS. Tujuannya, agar data dari site bisa langsung diterima oleh kantor pusat secara real time.

Namun, awal November 2022 terjadi kisruh kepemilikan saham di CLM. Agar data tentang keuangan perusahaan tetap dalam kondisi aman, Asep lalu mengajukan inisiatif ke direksi agar melakukan korespondensi dengan pihak CPS mengenai kondisi yang terjadi.

“Kita ceritakan kepada pihak CPS tentang permasalahan CLM yang sedang dalam proses hukum. Selain itu, kami juga minta agar permohonan akses database ditahan dulu. Lagi pula, CPS itu kontraknya dengan Pak Helmut, kenapa mereka membuka akses kepada pihak lain,” papar Asep.

Ternyata selain CLM pimpinan Helmut Hermawan, pihak lain yang mengaku sebagai manajemen sah juga menyurati CPS perihal akses database perusahaan. Lalu, pada 25 November 2022, kedua pihak yang bersengketa juga bertemu dengan  pihak CPS.

Dalam pertemuan itu, pihak CPS memutuskan untuk membekukan sementara atau menetapkan status quo terhadap akses database CLM hingga ada keputusan inkrah dari pihak pengadilan. “Atas keputusan tersebut, kami setuju asalkan akses database itu tidak diberikan kepada siapapun,” tuturnya.

Baca juga: Garap Tambang Nikel, CLM Beri Kontribusi ke Masyarakat Daerah

Tapi anehnya, pada 9 Desember 2022 tiba-tiba pihak CPS melayangkan surat pemberitahuan kepada manajemen CLM pimpinan Helmut Hermawan bahwa akses database akan dibuka kembali.

Seketika, skses data base pun diberikan kepada pihak lain karena dianggap sah secara hukum mewakili PT Citra Lampia Mandiri (CLM). “Keputusan ini terlalu cepat karena prosesnya masih berjalan di pengadilan,” kata Asep.

Padahal, sambung dia, data base pembukuan keuangan merupakan dapur dari sebuah perusahaan. Semua kegiatan yang hanya diketahui pihak internal ada di dalam database itu. “Kini, rahasia itu dibocorkan oleh pihak yang selama ini kita beri amanah,” ungkapnya.

Sementara itu, Staf Legal PT CPS Afif Aji Satria menjelaskan keputusan pembukaan akses database dilakukan dengan mempertimbangkan sejumlah hal..

“CPS tidak berpihak, dan harus netral. Adapun pembukaan akses database kami lakukan setelah mempelajari lampiran-lampiran yang diajukan para pihak bersengketa dan terdaftar di Ditjen Administrasi Hukum Umum atau AHU Kemenkumham,” katanya.

Menurut Afif, semula pihaknya belum tahu cara memvalidasi data kedua pihak yang bersengketa. Itulah sebabnya CPS menetapkan pemblokiran terhadap akses database.

Selanjutnya, untuk mengetahui siapa pihak yang berhak memiliki akses database, CPS melakukan evaluasi dan memeriksa lampiran-lampiran dokumen kedua pihak. Selain itu, CPS juga melakukan scan QR code yang dimiliki kedua pihak bersengketa.

Di sisi lain, proses hukum kisruh kepemilikan saham di tubuh PT CLM antara pihak-pihak  yang bertikai masih terus bergulir.

Helmut Hermawan mengatakan pihaknya sudah melakukan upaya hukum secara perdata dan pidana dalam kasus kisruh kepemilikan saham di  CLM dan prosesnya kini sedang bergulir.

Kekisruhan di PT CLM muncul setelah PT. Aserra Mineralindo Investama (PT AMI) dh. PT. Aserra  Sejahtera Investama (ASI)/PT.Aserra Capital (Aserra Group)  ingin membeli saham APMR pemilik mayoritas CLM.

Dalam prosesnya, perjanjian jual beli itu tidak terlaksana sesuai kesepakatan.Namun, pihak Assera merasa sudah memiliki APMR dan ingin menguasai PT CLM.

Helmut menegaskan bahwa pihaknya adalah manajemen yang sah PT CLM berdasarkan akte terakhirnya tanggal 14 September 2022 yang telah mendapatkan pengesahan dari Kemenkum dan HAM.